. KAMI MEMBUAT ALBUM DAN MENEMANI ANDA DI SETIAP TRIP ... PULAU HARAPAN, PULAU PRAMUKA, PULAU PARI, SAWARNA, GREEN CANYON, PAPANDAYAN, KRAKATAU, PAHAWANG, DIENG, BUKIT SIKUNIR, GUNUNG PRAU, BROMO, IJEN BALURAN, KARIMUN, MENJANGAN, BALI, LOMBOK, MOUNT RINJANI, MOUNT AGUNG, TAMBORA, BELITUNG, DERAWAN 2015 ... SEE U ON NEXT TRIP .

Leuwi Hejo

Leuwi Hejo dan Curug Barong, Lirikan Baru Pariwisata Bogor
Teks by : Wilda Hikmalia

Berawal dari postingan salah seorang teman di social media, mulanya aku belom terlalu melirik akan sebuah kolam hijau ini. Kemudian poto demi poto petualangan mereka membuatku semakin mendekatkan mata ke layar monitor komputer. Aku melihat sebuah batu yang cukup tinggi dengan air terjun mengalir disampingnya dan kolam air dibawahnya

“Waaaw … pasti rasanya sangat ‘sesuatu’ jika mencoba terjun dari batu itu.” Begitulah gumamku setelah melihat poto tersebut. Ditambah lagi aku memang sangat hobi untuk terjun bebas diketinggian yang mana bentagan air siap menanti dibawahnya. Tiba-tiba saja  seolah membaca pikiranku, seorang teman mengirimkan pesan singkat ke handpone

“Lo sudah ke Leuwi Hejo?”begitu bunyi pertanyaannya sore itu.

Tidak menunggu waktu lama, perselancaran didunia maya pun segera saya lakukan. Menggali informasi; baik transportasi, rute, keunikan dan semua hal tentang Leuwi Hejo sebanyak mungkin untuk tempat yang sedang naik daun ini.

Minggu, 12 Oktober 2014. Dideklarasikanlah tanggal tersebut untuk menjajah kolam alami yang terletak di Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor.

Leuwi Hejo atau yang lebih dikenal oleh masyarakat setempat bernama Curug Bengkok adalah sebuah air terjun mini yang ditampung oleh kolam kecil berwarna hijau dan memiliki air yang sangat jernih serta dingin yang lumayan menusuk tulang. Berada di Kp. Wangun Cileugsi-Ds. Karang Tengah-Kec. Babakan Madang- Kab. Bogor kolam jernih ini menuai banyak lirikan bagi para pecinta alam. Ketenarannya baru mengudara beberapa bulan belakangan berkat seorang traveler yang mengenalkan lokasi ini disebuah forum komunitas dunia maya. Curug Bengkok dinamakan demikian karena air yang terjun dari bebatuan itu tidak lurus yang dimasyarakat setempat dinamakan Bengkok. Curug ini kemudian berganti nama menjadi Leuwi Hejo, dan nama tersebut akhirnya melambung di dunia per-traveling-an. Jadilah Leuwi Hejo bak artis yang sedang diburu oleh para petualang baik dari wilayah Bogor sekitar maupun dari luar kota terdekat seperti Jakarta, Tangerang dan Bandung.

Saya dan 3 orang teman memulai perjalanan dari BSD – Tangerang selatan jam 06.30 pagi. Prediksi keberangkatan lebih awal demi mengantisipasi lonjakan pengunjung di akhir pekan ini apalagi Leuwi Hejo sedang diburu oleh peminat air terjun alami yang terletak disebuah desa nan asri.

Menurut beberapa informasi patokan awal adalah Sentul – Jungleland Bogor, dari sini perjalanan dilanjutkan kembali sekitar 45-60 menit dengan kondisi jalanan off road yang memacu adrenalin.

—-

Pukul 09.00 . Dua unit roda dua akhirnya sampai di perempatan Jungleland setelah sebelumnya saya memastikan jalan kembali dengan bertanya kepada penduduk setempat. Bayangan saya sebelumnya akan ada sebuah baliho besar yang bertuliskan “SELAMAT DATANG DI JUNGELAND” atau semacamnya. Tapi tidak. Tidak ada sedikitpun sebuah tanda bertuliskan hal tersebut diperempatan ini. Jadi, saya kembali turun dari motor dan bertanya kepada seorang satpam yang sedang bertugas. Tanpa menyebutkan clue panjang lebar, setelah mendengar kata Babakan Madang si bapak langsung dapat menebak kemana tujuan kami pagi ini

“Ke Leuwi Hejo ya ? Lagi hits-hits itu tempat sekarang” begitu dia berkata sumringah dapat menerka haluan kami.

Dari depan perempatan Jungeland, ambil arah sebelah kiri dengan sedikit tanjakan, lurus terus mengikuti jalan sekitar 30-45 menit mencapai tujuan terakhir parkiran Leuwi Hejo. Tapi ingat, terlebih dahulu persiapkanlah perbekalan lengkap disini seperti cemilan/makan siang serta bahan bakar kendaraan.

20 menit berlalu jalanan masih didominasi aspal, walaupun kurang bagus dan sesekali melewati jalan rusak serta tanjakan dan tikungan tajam. Namun setelah melewati sebuah jembatan kayu yang masih dalam perbaikan, jalanan seterusnya benar-benar akan memacu adrenalin dengan sepenuhnya off road dan sangat dibutuhkan kelihaian dalam membaca situasi jalanan. Dari jembatan ini terus ikuti jalan sampai mendapati sebuah masjid/mushola berwarna biru disebelah kiri jalan, lurus terus beberapa meter lagi dan sebuah turunan setelahnya akan ditemui sebuah petunjuk jalan kayu yang sepertinya baru dibuat oleh masyarakat setempat dengan panah petunjuk arah yang bertuliskan “Crg Barong, Leuwi Hejo, Parkir disini”

Sebuah rumah bercat kuning, halaman yang cukup luas dan sebuah mushola di depannya … Ya itulah parkiran untuk semua pengunjung yang akan menuju Leuwi Hejo dan Curug Barong. Rumah ini adalah milik ketua RT setempat yang juga dijadikan Posyandu Anggrek untuk waktu-waktu tertentu bagi masyarakat sekitar.

Pak RT menyambut kedatangan saya dan teman-teman pagi ini jam 09.45 kemudian disusul sapaan hangat dari Ibu Yati istri beliau. 5 motor tampak sedang parkir dihalaman rumahnya. Ternyata kami sudah “kecolongan” garis start oleh pengunjung yang lain.

“4 motor dari Jakarta, datang jam 8 tadi dan 1 nya masih warga sekitar sini” begitu jawab pak RT ketika aku bertanya si empunya motor. Tanpa berlama-lama melepas lelah saya dan teman-teman segera memutuskan untuk langsung melanjutkan tracking ke Leuwi Hejo setelah sebelumnya berganti pakaian untuk berbasah-basahan di rumah Ibu Yati karena dilokasi tidak akan ditemukan ruang ganti atau semacamnya.

Medan awal menuju Leuwi Hejo masih berbentuk jalan setapak disekitar rumah warga. Petunjuk jalan berupa papan kecil mengarahkan pejalan kaki mengikuti instruksi tersebut. Lima menit berlalu, sawah terbentang luas dan bukit-bukit hijau membuat mata elok memandang. Beranjak meninggalkan sawah ini, trek yang sesungguhnya dimulai !!! Ya perjalanan berikutnya adalah menelusuri sungai, naik melawan arus, menggapai batu-batu tinggi dan berhati-hati terhadap setiap pijakan kaki. Memakai sandal gunung yang nyaman sangat direkomendasikan ketika berkunjung ke Leuwi Hejo. Untuk yang sudah terbiasa dengan rintangan ini tidak akan kesulitan tapi tidak bagi mereka yang belum terbiasa. Jadi….. kehati-hatian sangat-sangat dibutuhkan karena jalur ini persis merambah sisi sungai tanpa ada jalan setapak dipinggirnya.

Berawal dari postingan salah seorang teman di social media, mulanya aku belom terlalu melirik akan sebuah kolam hijau ini. Kemudian poto demi poto petualangan mereka membuatku semakin mendekatkan mata ke layar monitor komputer. Aku melihat sebuah batu yang cukup tinggi dengan air terjun mengalir disampingnya dan kolam air dibawahnya

“Waaaw … pasti rasanya sangat ‘sesuatu’ jika mencoba terjun dari batu itu.” Begitulah gumamku setelah melihat poto tersebut. Ditambah lagi aku memang sangat hobi untuk terjun bebas diketinggian yang mana bentagan air siap menanti dibawahnya. Tiba-tiba saja  seolah membaca pikiranku, seorang teman mengirimkan pesan singkat ke handpone

“Lo sudah ke Leuwi Hejo?”begitu bunyi pertanyaannya sore itu.

Tidak menunggu waktu lama, perselancaran didunia maya pun segera saya lakukan. Menggali informasi; baik transportasi, rute, keunikan dan semua hal tentang Leuwi Hejo sebanyak mungkin untuk tempat yang sedang naik daun ini.

Minggu, 12 Oktober 2014. Dideklarasikanlah tanggal tersebut untuk menjajah kolam alami yang terletak di Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor.

Leuwi Hejo atau yang lebih dikenal oleh masyarakat setempat bernama Curug Bengkok adalah sebuah air terjun mini yang ditampung oleh kolam kecil berwarna hijau dan memiliki air yang sangat jernih serta dingin yang lumayan menusuk tulang. Berada di Kp. Wangun Cileugsi-Ds. Karang Tengah-Kec. Babakan Madang- Kab. Bogor kolam jernih ini menuai banyak lirikan bagi para pecinta alam. Ketenarannya baru mengudara beberapa bulan belakangan berkat seorang traveler yang mengenalkan lokasi ini disebuah forum komunitas dunia maya. Curug Bengkok dinamakan demikian karena air yang terjun dari bebatuan itu tidak lurus yang dimasyarakat setempat dinamakan Bengkok. Curug ini kemudian berganti nama menjadi Leuwi Hejo, dan nama tersebut akhirnya melambung di dunia per-traveling-an. Jadilah Leuwi Hejo bak artis yang sedang diburu oleh para petualang baik dari wilayah Bogor sekitar maupun dari luar kota terdekat seperti Jakarta, Tangerang dan Bandung.

Saya dan 3 orang teman memulai perjalanan dari BSD – Tangerang selatan jam 06.30 pagi. Prediksi keberangkatan lebih awal demi mengantisipasi lonjakan pengunjung di akhir pekan ini apalagi Leuwi Hejo sedang diburu oleh peminat air terjun alami yang terletak disebuah desa nan asri.

Menurut beberapa informasi patokan awal adalah Sentul – Jungleland Bogor, dari sini perjalanan dilanjutkan kembali sekitar 45-60 menit dengan kondisi jalanan off road yang memacu adrenalin.

—-

Pukul 09.00 . Dua unit roda dua akhirnya sampai di perempatan Jungleland setelah sebelumnya saya memastikan jalan kembali dengan bertanya kepada penduduk setempat. Bayangan saya sebelumnya akan ada sebuah baliho besar yang bertuliskan “SELAMAT DATANG DI JUNGELAND” atau semacamnya. Tapi tidak. Tidak ada sedikitpun sebuah tanda bertuliskan hal tersebut diperempatan ini. Jadi, saya kembali turun dari motor dan bertanya kepada seorang satpam yang sedang bertugas. Tanpa menyebutkan clue panjang lebar, setelah mendengar kata Babakan Madang si bapak langsung dapat menebak kemana tujuan kami pagi ini

“Ke Leuwi Hejo ya ? Lagi hits-hits itu tempat sekarang” begitu dia berkata sumringah dapat menerka haluan kami.

Dari depan perempatan Jungeland, ambil arah sebelah kiri dengan sedikit tanjakan, lurus terus mengikuti jalan sekitar 30-45 menit mencapai tujuan terakhir parkiran Leuwi Hejo. Tapi ingat, terlebih dahulu persiapkanlah perbekalan lengkap disini seperti cemilan/makan siang serta bahan bakar kendaraan.

20 menit berlalu jalanan masih didominasi aspal, walaupun kurang bagus dan sesekali melewati jalan rusak serta tanjakan dan tikungan tajam. Namun setelah melewati sebuah jembatan kayu yang masih dalam perbaikan, jalanan seterusnya benar-benar akan memacu adrenalin dengan sepenuhnya off road dan sangat dibutuhkan kelihaian dalam membaca situasi jalanan. Dari jembatan ini terus ikuti jalan sampai mendapati sebuah masjid/mushola berwarna biru disebelah kiri jalan, lurus terus beberapa meter lagi dan sebuah turunan setelahnya akan ditemui sebuah petunjuk jalan kayu yang sepertinya baru dibuat oleh masyarakat setempat dengan panah petunjuk arah yang bertuliskan “Crg Barong, Leuwi Hejo, Parkir disini”

Sebuah rumah bercat kuning, halaman yang cukup luas dan sebuah mushola di depannya … Ya itulah parkiran untuk semua pengunjung yang akan menuju Leuwi Hejo dan Curug Barong. Rumah ini adalah milik ketua RT setempat yang juga dijadikan Posyandu Anggrek untuk waktu-waktu tertentu bagi masyarakat sekitar.

Pak RT menyambut kedatangan saya dan teman-teman pagi ini jam 09.45 kemudian disusul sapaan hangat dari Ibu Yati istri beliau. 5 motor tampak sedang parkir dihalaman rumahnya. Ternyata kami sudah “kecolongan” garis start oleh pengunjung yang lain.

“4 motor dari Jakarta, datang jam 8 tadi dan 1 nya masih warga sekitar sini” begitu jawab pak RT ketika aku bertanya si empunya motor. Tanpa berlama-lama melepas lelah saya dan teman-teman segera memutuskan untuk langsung melanjutkan tracking ke Leuwi Hejo setelah sebelumnya berganti pakaian untuk berbasah-basahan di rumah Ibu Yati karena dilokasi tidak akan ditemukan ruang ganti atau semacamnya.

Medan awal menuju Leuwi Hejo masih berbentuk jalan setapak disekitar rumah warga. Petunjuk jalan berupa papan kecil mengarahkan pejalan kaki mengikuti instruksi tersebut. Lima menit berlalu, sawah terbentang luas dan bukit-bukit hijau membuat mata elok memandang. Beranjak meninggalkan sawah ini, trek yang sesungguhnya dimulai !!! Ya perjalanan berikutnya adalah menelusuri sungai, naik melawan arus, menggapai batu-batu tinggi dan berhati-hati terhadap setiap pijakan kaki. Memakai sandal gunung yang nyaman sangat direkomendasikan ketika berkunjung ke Leuwi Hejo. Untuk yang sudah terbiasa dengan rintangan ini tidak akan kesulitan tapi tidak bagi mereka yang belum terbiasa. Jadi….. kehati-hatian sangat-sangat dibutuhkan karena jalur ini persis merambah sisi sungai tanpa ada jalan setapak dipinggirnya.

Makin populernya Leuwi Hejo tampaknya membuat masyarakat sekitar tidak tinggal diam. Segala perubahan dan fasilitas mereka coba untuk sediakan demi kenyamanan para pengunjung. Tak ayal, sepanjang perjalanan ada beberapa titik yang sedang dibangun pos-pos kecil untuk istirahat bagi trackers untuk melanjutkan perjalan berikutnya. Bahkan disalah satu pos itu sudah terdapat seorang penjaja minuman dan makanan kecil. Entahlah, apa kelak dibangun memang untuk pedagang kecil atau pos istirahat pengunjung atau mungkin difungsikan untuk kedua-duanya.

Memasuki kawasan Leuwi Hejo setiap pengunjung dikenakan tarif Rp 5.000,- . Awalnya saya sangat bangga akan solidaritas para warga demi mengembangkan potensi wisata daerah mereka. Tapi sayang, harapan itu sirna setelah saya mengetahui bahwa tarikan biaya tiket masuk tersebut hanyalah “ulah” segelintir orang/anak muda yang tanpa pertanggungjawaban pasti. Info ini saya terima dari Ibu Yati. Sempat terpikir dibenak saya, jika pungutan ini masih illegal, sah-sah saja asal hasilnya untuk kepentingan bersama terutama untuk mengembangkan bebagai kebutuhan fasilitas desa terutama jalanan yang rusak. Management yang pas dan kerjasama yang mendukung, saya bisa pastikan penduduk desa Kp. Wangun Cileungsi akan bertambah makmur selain mengandalkan hasil pertanian dan ternak. Semoga kedepannya penataan yang lebih jelas dan teratur dapat mengembangkan berbagai kebutuhan desa dan masyarakat sekitar apalagi Leuwi Hejo makin menarik perhatian setiap mata petualang.

Sekitar 30 menit berlalu, deruan air seolah memanggil kami untuk segera mendekatinya. Ya ,, dengan perjalanan yang tidak terlalu sering berhenti kami berempat bisa dengan segera mencapai titik kolam hijau ini dibantu oleh 4 bocah kecil penduduk setempat yang berpapasan dengan kami  ketika mereka balik mengantarkan pemilik motor yang saya temui tadi di rumah pak RT. Pundi-pundi rejeki akibat melejitnya objek wisata ini tidak hanya dirasakan oleh para orang tua tapi anak-anak seperti mereka juga dapat menambah isi kantong jajan dengan menjadi petunjuk jalan bagi para pengunjung. Tentunya diwaktu libur seperti ini dimana bangku sekolah sedang tidak mereka duduki.

Yeeee ….. Masih pagi dan sepi pengunjung.

Saatnya melepas penat turun naik bukit dan menelusuri sungai. Menceburkan diri di Leuwi Hejo dan tentunya juga merealisasikan tujuan awal saya kesini yaitu lompat dari batu disebelah kiri curug.

Finally, I got it … setelah melalui perjuangan panjang melawan arus sungai sampailah saya dititik yang saya inginkan untuk melompat bebas berkat bantuan salah seorang teman yang baru saya kenal di lokasi ini .

Air terjun kolam kecil ini memiliki kedalaman kurang lebih 4 meter tepat di bawah curug. Jika ingin jump dari batu tinggi disebelahnya dibutuhkan sedikit usaha extra karena harus melawan arus air yang mengalir serta memanjat batu tanpa ada bantuan kecuali pegangan erat pada sisi-sisi batu. Sebelum menceburkan diri ke air, ada baiknya berdamai terlebih dahulu dengan suhu tubuh karena air yang cukup dingin.

Tidak berlama-lama di Leuwi Hejo saya dan teman-teman memutuskan untuk melanjutkan adventure ke curug berikutnya yaitu Curug Barong. Empat orang guide cilik kami siap membantu dan menemani kembali langkah kaki kami pagi ini.

Dari Leuwi Hejo tidak ada petunjuk arah langsung menuju Curug Barong. Mundur sedikit ke arah jalan datang dan setelah melihat tanjakan tinggi disebelah kanan ikuti terus jalan tersebut. Nantinya kita akan berada persis di atas Leuwi Hejo. Melewati hutan dan perkebunan tak jarang jurang disebelah kanan. Menantang tapi seru. Seru-seru menantang membayangkan pusat air berikutnya yang akan kami temui.

Ternyata setelah melewati bukit, tantangan berikutnya sudah menanti. Kembali menelusuri sungai, melewati bebatuan kecil-besar, bertumpu pada kekuatan kaki. Karena track ini lebih “berbahaya” dari sebelumnya. Hhhhmm,, saya dapat mengambil kesimpulan kenapa 4 bocah tadi agak sedikit menolak ragu untuk menemani ke Curug Barong, ternyata beginilah kondisi jalurnya.

Dan sangat saya sarankan, urungkan niat jika mendung kelihatan datang menjelang. Debit air sungai tentunya akan tinggi dan bisa diluar dugaan.

Sekitar 45 menit perjuangan kembali kami taruhkan demi curug kedua. Setelah melewati batu besar tak sedikit harapan saya setelahnya akan segera bersua dengan si Barong. Ketika stamina hampir sedikit melemah, teriakan seorang bocah berbaju hijau sayup-sayup kudengar dari atas

“ Ini, sudah sampai !!! ” teriak dia melambaikan tangan disebuah batu tinggi kepadaku. Tak urung segera kutaklukkan satu batu lagi.

Ye ….. Akhirnya bertemu jua dengan Curug Barong. Dan lebih girangnya lagi belum ada pengunjung lain selain kami ber-8 .

Kembali tubuh ini kubasahkan di Curug Barong. Walaupun air terjun tidak mengalir cukup deras dikarenakan sudah 1 bulan kemarau panjang melanda tapi pemandangan disini sudah cukup membuat aku terpana dan terpesona akan asri dan alaminya.

1 Jam waktu yang cukup lama bagi saya dan teman-teman bercengkrama dengan Curug Barong dibandingkan dengan Leuwi Hejo.

Sepi ….. itulah yang menjadi keputusan kami untuk rehat sejenak disini. Semuanya terbayarkan, adventure yang sangat menantang. Persahabatan yang tertoreh dan sikap solidaritas yang kami tunjukkan satu sama lain.

Curug Barong dan Leuwi Hejo masih termasuk satu aliran sungai yang mengalir bersamaan. Masing-masing memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri. Walaupun Barong belom setersohor saudaranya yang di bawah Leuwi Hejo. Tapi saya yakin kelak 2 spot wisata baru ini akan banyak dilirik oleh para “mata-mata pejalan” .

Sama halnya dengan Leuwi Hejo kehati-hatian sangat perlu diperhatikan terutama hindari berenang persis dibawah aliran air terjun. Cukup bermain air di daerah dangkal sudah sangat memuaskan.

12.15 . Siang sudah tak terlalu menantang, rasa puaspun sudah menjalar dibadan dan kami memutuskan untuk segera kembali ke parkiran awal rumah Ibu Yati. Untuk track pulang melewati jalur berbeda yaitu hutan-hutan, terasering sawah serta perkebunan milik warga.

12.50. kami sudah sampai kembali di tempat garis start semula. Dan lebih-lebih saya terkaget-kaget melihat parkiran yang sudah merayap didepan rumah beliau. Semakin siang pendatang semakin ramai bahkan ada beberapa kelompok yang sengaja menunggu kepulauan pengunjung lainnya baru kemudian mereka melakukan perjalanan ke Leuwi Hejo. Hal ini untuk mensiasati kepadatan di Leuwi Hejo mengingat lokasinya sangatlah kecil yang tentunya tidak akan dapat menampung banyak pengunjung serta akan kelihatan ramai sehingga tidak terlalu puas menikmatinya. So, pilihan saya dan teman-teman tidak meleset sedikitpun. Lebih awal, lebih berasa menikmatinya.

” Kadang, sudah ashar nyampe sini . Yang dari Bandung pernah, balik-balik dari Leuwi Hejo sudah magrib “ tutur Bu Yati dengan logat sundanya saat saya berbincang-bincang dengan beliau di ruang tamu rumahnya. Untuk harga parkir Ibu Yati menarik tarif 5.000 rupiah untuk satu motor. Tetapi bagi saya pribadi, melebihkan tarif tersebut adalah kebahagian tersendiri mengingat kebaikan beliau menjamu para pengunjung dan menjadikan rumah pribadinya sebagai persinggahan tempat salin baju bahkan untuk kembali membasuh badan membersihkan diri karena belum ada fasilitas umum lainnya seperti kamar mandi/toilet umum dll.

Setelah bersalin baju ganti dan melaksanakan kewajiban di mushola depan rumah Posyandu ini, sejenak saya dan teman-teman menambal perut terlebih dahulu dengan semangkok mie rebus seharga 7.500 dan 2 gorengan 2.000 disebuah warung persis disebelah rumah Ibu Yati. Warung tersebut dikelola langsung oleh orang tua Ibu Yati, sedangkan beliau “menampung” rejeki lain dari lahan parkir yang disediakan dihalaman rumahnya.

Dalam kilas perbincangan saya melihat semangat Ibu Yati yang tulus untuk dapat memajukan dua objek wisata baru ini. Harapan-harapan pun terbesit dari dalam hati beliau. Tak terkecuali saya. Secercah do’apun saya tinggalkan disini. Semoga pengelolaan dua daya tarik ini tidak disalah gunakan oleh tangan-tangan yang tidak berkepentingan yang hanya menarik keuntungan sepihak. Alangkah baiknya dikelola bersama-sama, demi kepentingan bersama terutama untuk masyarakat setempat dan pembenahan infrastruktur akses/jalan serta fasilitas lainnya yang menunjang. Apalagi dua spot ini masih dalam lingkup Bogor yang terkenal akan curug-curugnya yang menjamur.

Leuwi Hejo dan Curug Barong adalah ladang. Ladang baru bagi masyarakat Babakan Madang dan tentunya menambah deretan lirikan baru untuk objek wisata Bogor. Semoga selalu tetap terjaga, dilestarikan dan “mengalir dengan tenang” bak aliran air Leuwi Hejo dan Curug Barong.

 

S : http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2014/10/15/leuwi-hejo-dan-curug-barong-lirikan-baru-pariwisata-bogor–685525.html


news
articles



ARTIKEL Lain nya...